I saw the light coming home

Lost
I thought I lost it
I thought The Moon was lost
I’ve been desperate for the last few weeks,
thought that I’ve lost The Moon
I’ve been wondering where and why
I’ve been searching for the answer,
for The Moon
Nothing

But then, now, I found it
I see The Moon
And the answer is clear
It’s been hidden by the clouds all the time
Yes
I thought it was lost
The Moon
It never lost, I never lost it
It is always there—I just cannot see it



Desperation, and loneliness, drove me to write something. I said to myself I can’t do that yet, so I kept the thought in my head. But then hope comes along, and I wrote this.

Now, The Moon needs me. It needs my light.
For I am The Sun.

Under the pale light of the almost-full moon on the fifth night of June.

Advertisements

…and now, for the last few minutes of the day…

Hari ini hari yang ramai. Setelah uas jepang yang sangat menggairahkan, ada bus ac yang ramai seperti kaleng sarden dingin. Sekarang masih ada paper yang harus dikerjakan. Besok bangun jam tiga. Kenapa selalu menulis di larut malam? Insomnia? Sepertinya bukan. Entahlah. C ya next post!

Saturday (mid)Night

Hiya again everyone. Sekarang saya (aku, gw, urang, aing, me, I—whatever) akan mencoba menulis tanpa menghapus tulisan sebelumnya, I mean, kata-katanya. Uh, akan ditulis apa adanya, dan kalaupun salah, bakal dicoret. Dan nilainya berkurang. Ga boleh ikut uas. Baiklah, garing. Pokoknya setiap salah akan dicoteretret. Begitu. ini akan mem—ah, salah, maksud saya, ini berarti saya harus berpikir betul-betul sebelum menulis (mengetik), agar supaya…ya, betul. Well, I think it’ll reduce mistakes and increase a XXXX. Hate that. Berbelit-belit. Saya akan tulis apa yang saya tulis DENGAN CARA SAYA SENDIRI. oh, maaf. Ini di bawah pengaruh kafein. [deleted for the sake of your sanity, and mine]

…oke, kita ceritakan keadaan terakhir monsieur sunday: sedikit berawan, angin dari timur—oh barat…eh, tunggu dulu, itu timur laut sekarang. Oh baiklah—kondisi angin tidak menentu, dan kemungkinan akan turun hujan. Yes, it’s an ordinary cold, grey, and windy, the kind of times that you might better stay home and take a little long nap and some cup of hot chocolate, with some friends—OR, well, maybe alone at home, a little long nap, some dozing in front of your telly, or…well, the kind of times when you’ve lost all interest and motivations of doing things. LAZY TIME! LAZINESS RULES! YEAH! Ah. Maaf.

Jadi, semua pikiran yang ingin saya tuliskan semua bersembunyi. Maaf, nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi. Coba beberapa saat lagi.

Redial.

Maaf, nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi. Coba beberapa saat lagi.

Redial.

Maaf, nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi. Coba beberapa saat lagi.

Redial.

Maaf, nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi. Coba beberapa saat lagi.

Redial

Redial

Redial

Redial

Redial

Redial

[klik]

Ah, halo, maaf. Saya kebingungan. Maaf. Baiklah, saya akan beritahu sesuatu: sometimes you need to talk to someone to ease yourself, and it (might) helps that someone to ease him- or herself. Cobalah untuk berbicara dengan seseorang jika kau punya sesuatu yang mengganjal dalam pikiran atau dalam hatimu. Apa saja, dengan siapa saja. Tapi sepertinya kalau yang mengganjal ada di pikiran, mending cari dosen, atau guru, atau siapapun yang lebih pintar darimu. Salah-salah malah jadi salah pikirannya. Um, mungkin itu tadi sedikit membingungkan. Carilah orang yang tepat untuk saling berbagi pikiran dan keluh-kesahmu.

Ya, jadi hari ini saya pergi jalan (bukan betul-betul jalan, ada saat naik kendaraan dan duduk, juga hal-hal lain) dengan salah seorang teman saya, teman sma. Well, itu tidak akan saya terangkan lebih lanjut. Jadi, kami mengobrol biasa, dan arus membawa kami hingga kami saling membicarakan pengganjal masing-masing: dia dan masalah dengan teman-temannya, juga masalah pacarnya, saya dan masalah saya dengan teman-teman saya—atau yah, bahasa kerennya mah curhat. Saling bertukar pikiran. Dan, ya, setelah kau mengeluarkan apa yang mengganjalmu, semua masalahmu akan terasa lebih ringan, apalagi jika lawan bicaramu bisa memberikan saran atau pendapatnya yang bisa kau pertimbangkan untuk menyingkirkan ganjalan itu. Bicaralah. Bicarakanlah masalahmu. Jangan kau simpan. Itu bisa membuatmu cepat tua dan depresi akibat stres berlebih. Dan itu buruk.

Mungkin ada juga orang-orang yang bilang tidak semua orang bisa terbuka untuk membicarakan masalahnya. Baiklah, itu bukan karena tidak semua orang bisa terbuka, sebetulnya mereka bisa, hanya saja mereka belum bisa menemukan orang yang tepat untik dapat membukakan dirinya. Seperti saya, saya orang yang benar-benar tertutup, mungkin banyak orang yang mengenal saya tidak tahu apa yang saya pikirkan atau rasakan—atau, apakah mereka benar-benar mengenal saya? Saya orang yang tertutup, ingat. Bukan apa-apa, hanya saja saya tidak semudah itu memercayai orang untuk kemudian mereka dapat melihat, mengetahui, menyentuh, merasakan, membaui, mendengar apa yang ada di dalam diri saya. Now that would be an exploit. Tapi, apa yang saya perlukan hanyalah sebuah keterbukaan juga. Baiklah, kau ingin aku terbuka? Ceritakanlah tentang dirimu, dengan sangat-sangat jujur dan terbuka. Seperti itulah. Itu pun jika saya tidak mencium gelagat tersembunyi darimu dan jika saya sudah cukup menaruh kepercayaan padamu (i.e., kenal setiap sifat dan gelagatmu). Yah, kaulihat, ini masalah kepercayaan terbesar. Kepercayaan untuk dapat menyimpan setiap jengkal rahasia terbesarmu, untuk dapat menyimpan sebagian dari dirimu dan menjaganya dengan baik. Itu yang terjadi tadi, saya memberikan sebagian diri saya, dan dia pun melakukan hal yang sama, dengan juga menaruh kepercayaan yang sama besar untuk menjaganya. Saya rasa, bahkan orang yang paling antisosial (mungkin istilahnya agak sedikit rancu, kurang tepat) pun bisa membukakan bentengnya untuk orang yang dia rasa bisa dipercayainya dengan betul-betul.

Bagaimana? Semoga itu cukup. Saya minta maaf.

Ya, terima kasih.

Oh, sama-sama.

[klik]

…and that will be our last for today. Thank you for watching, and remember, always take your pills before sleep. Have a good dream, and be aware of your surroundings. Good night everyone.

Lapalop, 17509.

Pikiran jahat

Hari-hari ini terasa sulit. Saya bokek. Kehabisan uang. Ah, padahal ada begitu banyak yang saya ingin beli. Nampaknya cara apapun bolehlah, asal dapat uang.

Hari ini saya pergi ke kampus untuk menghadiri kuliah yang tidak pernah ada. Yah, setidaknya semua orang datang. Saya bertemu dengan seorang teman yang juga senasib dengan saya. Dia bokek. Kehabisan uang. Hari-harinya terasa sulit. Ah, padahal ada begitu banyak barang yang ingin dia beli. Nampaknya cara apapun bolehlah, asal dapat uang. Kami juga bertemu dengan seorang teman yang tidak senasib dengan kami. Dia tidak bokek. Tidak kehabisan uang. Hari-harinya terasa mudah. Ah, ada barang yang akan dia beli. Nampaknya tidak pakai cara apapun bisa dapat uang. Oh, saya iri.

Sepulang kuliah, kami berdua—terikat oleh nasib yang sama—berjalan pulang. Sepanjang jalan kami membicarakan bagaimana caranya dapat uang. Kami membicarakan soal mencari uang. Kerja sambilan, cuci piring juga boleh, asal tidak mengganggu kuliah dan bersenang-senang. Tapi tak lama kemudian, kami terlibat pembicaraan jahat: cara mendapatkan uang banyak dengan cepat adalah merampok. Dia mengusulkan merampok ATM yang berada di dekat gerbang bawah kampus. Katanya ATM itu tidak ditanam, jadi masih bisa dibawa kabur. Baiklah, jadi, kami memerlukan alat-alat dan jalan keluar. Kami memutuskan untuk membawa linggis untuk membongkar ATM, tidak memakai pakaian yang mencolok agar tidak dicurigai, dan sarung tangan juga topeng ski (tapi tadi dia bilang pakai kupluk) supaya tidak ketahuan siapa pelakunya. Masing-masing bawa tas ransel biasa, untuk mencegah kecurigaan. Jangan mengambil uang banyak-banyak. Secukupnya saja, secukupnya. Satu tas bisa diisi kira-kira sampai sepuluh juta. Oke, alat-alat siap. Sekarang, jalan keluar. Saya usulkan untuk membawa kendaraan sendiri—oh, bukan, kendaraan pinjaman yang kami bawa sendiri. Dia bilang itu tidak bisa. Nanti bisa dikenali, pemiliknya bisa ditanya dan menyebutkan ciri-ciri peminjam. Dia usulkan untuk memakai kendaraan umum saja, tidak mencurigakan. Naik kendaraan umum ke tempat jauh, berputar-putar. Lalu, di tempat sepi semua topeng dan sarung tangan dibakar. Aman. Sempurna. Kami berpisah dengan rencana jahat yang terstruktur rapi masuk meresap ke dalam otak.

Tapi itu semua tidak pernah terjadi.

Ah, hari-hari terasa sulit…apa mungkin ya ada emas 24 karat batangan dua belas kilogram jatuh dari langit?

Monsieur Sunday, signing in!

Yup. Hi, everyone! It’s a good day, eh? Di sini, Monsieur Sunday akan menuliskan segala pikirannya tentang segala sesuatu yang ditemuinya dalam hidupnya.

Siapa Monsieur Sunday? Itu saya, yang menulis di blog ini. Mungkin beberapa orang sudah tahu siapa saya, tapi mungkin juga ada yang tidak tahu, belum tahu, atau menebak-nebak siapa saya. Sudahlah, itu tidak penting. Tapi sekarang, saya akan menjelaskan pertanyaan “kenapa Monsieur Sunday?”

Baiklah, ini sudah saya ceritakan di blog saya yang lama, tapi yah, mari kita ceritakan kembali, for the sake of greeting. Jadi, suatu hari, di dalam suatu rapat, saya yang selalu dinamis dan tidak dapat berdiam diri dalam waktu lama, memerlukan suatu kegiatan yang dapat dilakukan sembari duduk dan masih dalam kondisi sedang rapat. Saya mulai mencorat-coret halaman kosong di belakang proposal seorang calon ketua ospek jurusan dengan pulpen biru, gambar sekelompok orang sedang berpesta bergembira, mereka sedang berjoget aneh. Tidak lama kemudian, setelah kembali bosan, saya mengambil isi spidol berwarna oranye untuk kembali mencorat-coret. Kali ini saya mencorat-coret setiap halaman kosong di belakang proposal seorang calon yang sekarang menjadi sang ketua ospek. Gambar pertama yang saya buat adalah gambar matahari dalam bentuk komikalnya: lingkaran dengan kurva-kurva melengkung mengelilinginya sebagai pancaran cahayanya, sebuah wajah tersenyum ditambahkan buat si matahari. Lalu gambar tadi saya beri nama, Monsieur Sunday. Setelahnya, saya mulai berpikir kalau nama tadi lebih cocok untuk saya pakai, dan gambar matahari tadi untuk ikon pribadi saya. Semuanya cocok: monsieur, panggilan ‘tuan’ dalam bahasa perancis, dan sesungguhnya saya adalah seorang lelaki. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Sunday—ini bagian yang penting, karena pada suatu hari, dia menggambarkan diri saya sebagai matahari yang menyinari bumi dengan cahayanya, sun. Ini dikaitkan dengan sifat saya yang benar-benar tenang dan santai, seumpama orang-orang yang bersantai dengan tenang di hari minggu, Sunday—yang juga pada asal-usulnya merupakan perpaduan dua kata: sun dan day. Dua kata tadi saya satukan menjadi satu nama panggilan. Maka, jadilah, saya adalah Monsieur Sunday.

Nampaknya cukup untuk sebuah perkenalan, dan sebuah awal yang baru untuk menulis. Yup, have a good reading my thoughts, everyone!