catatan #8

a hazed mind.

it’s like you’re walking on a knee-deep muddy road, in the middle of a very thick fog. so thick you can’t even see the tip of your nose. and the air is so dense that the words coming out of your mouth just barely makes a vibration in the air, let alone to be heard. you have to make a great effort to just get the words to be heard by you yourself. shout as hard as you can, try to get the words to go through the fog. walk! shout! pierce! you don’t know if there’ll be someone that hears you, or walking the same muddy road with you inside that fog, but shout anyway. keep walking. keep talking. know this: all things must end. including the road and the fog and the state of mind you’re in right now.

but it’s also like when you are full of energy and excitement, but you don’t feel that anything excites you at all. so you writhe in agony, all that energy and excitement eventually get to pent up inside you until you feel like exploding. ranting about anything to anyone willing. dancing like a madman in the middle of the road. walking or running around to anywhere, anywhere at all. until eventually it all calms down and you feel so exhausted after getting all that energy and excitement out of your system. and then you rest. you eat. you sleep. and perhaps after a good few hours you’re back to normal. normal.

funny word, ‘normal.’

Advertisements

the strange library, ini bukan review

IMG_20150601_020113304

…nothing, really

 

“but, hey, this kind of thing’s going on in libraries everywhere, you know.
more or less, that is.”
– lelaki domba (bukan kambing)

begini: murakami mau bikin dongeng urban buat anak lelaki.

jadi dia tulis cerita anak laki-laki baru gede yang selalu penasaran tentang semua hal yang menarik minatnya. suatu hari dia kembalikan buku ke perpustakaan kota (‘bagaimana membangun kapal selam’ dan ‘memoar seorang gembala’) sembari berniat pinjam buku lain. “turun tangga belok kanan, ruang 107.” kata si ibu penjaga yang lain dari biasanya. di sana si anak ketemu bapak tua kecil, botak, dan sedikit bungkuk dengan sikap penuh otoritas yang agaknya kalau jadi guru dia bakal jadi bapak guru killer dengan muka lucu dan gerak-gerik aneh tapi tetap enggak ada yang berani menggosip tentang dia. nah, sehabis bilang mau pinjam buku tentang pemungutan pajak di kekaisaran ottoman, si anak disuruh si bapak tua baca di tempat saja. tapi rupanya si anak digiring untuk disekap.

sampai situ saja, nanti spoiler.

akan muncul juga lelaki domba (domba, bukan kambing) yang riang dan anak perempuan misterius yang rupanya bisu (dan mungkin hantu).

yang jelas, bukunya khas murakami, lengkap dengan situasi-situasi dan karakter-karakter sureal, perasaan terasing dan kesendirian, juga atmosfir cerita yang dingin dan gelap (atau karena ruang bawah tanah perpustakaan kota memang biasanya begitu), tapi ringan dibaca dan tetap memikat. ditambah ilustrasi dari buku-buku tua sungguhan (versi hardcover uk, setidaknya) yang bikin baca lebih asyik. desain bukunya malah dibuat seperti buku pinjaman perpustakaan–ini niat namanya. sekarang bayangkan kalau misalnya perpustakaan umum punya buku ini, lalu dipasangi lagi kartu info pinjam dan sebagainya. bakal kocak. karena bukunya singkat, enak buat dibaca berkali-kali, walaupun ceritanya enggak akan berubah seberapa kali pun dibaca.

buku ini mungkin juga semacam kiasan untuk kegiatan belajar dan sistem pendidikan secara umum–ah, tapi sepertinya berlebihan.

Kopi, Teman, dan Obrolan

Ada banyak variabel-variabel dalam hidup setiap harinya: yang negatif, yang positif—yang kesemuanya terurut dalam satu persamaan besar. Hari ini, beberapa dari variabel itu menghasilkan persamaan buat hari yang menyenangkan.

Kopi, seperti juga sarapan yang enak lagi sehat, adalah suatu variabel positif. Apalagi jika dinikmati di pagi hari yang dingin, secangkir kopi panas itu jadi dua kali positifnya!

Continue reading

kelom geulis teteh sindi

aku sebenarnya terantuk oleh tema tulisan teman tinta kali ini. perihal kelom geulis. saking terantuknya, tulisan yang kubuat ini diposkan lima bulan setelah temanya ditetapkan. tetapi lima bulan tertunda bukan berarti aku tak juga mendapat ide. ada yang memberikan padaku sebuah ide untuk membuat puntiran kisah putri cinderella, yang ketinggalan sepatu kacanya waktu tengah malam itu dia buru-buru lari dari pelukan pangeran tampan karena takut dibenci. tahu kan, cinderella waktu itu dijadikan babu oleh si ibu tiri yang kejam serta dua anaknya yang buruk, dan dia cuma punya sehelai baju lusuh yang dipakai tiap hari. padahal dia cantik, tapi karena tidurnya di depan perapian, mukanya jadi penuh daki. ibu kandungnya mati waktu dia masih kecil, dan ayahnya mati tidak lama setelah nikah lagi dengan si ibu tiri. dulu waktu ayahnya masih ada, si ibu tiri dan dua anaknya baik padanya. tapi rupanya si ibu tiri cuma mengincar harta ayahnya–ayahnya, kan, pedagang sukses. Continue reading