the one weird encounter

on the right circumstances, i can sit and write, single-mindedly. laser focus. however, that circumstances oftenly not in line with the right circumstances for me to get ideas flowing. so, the moment i got any ideas, most likely is when i don’t get any motivation to write. and vice versa, when i have the motivation and energy to write, it is likely when nothing comes up to mind. the moments where the two circumstances exist simultaneously are uncommon–if not rare–and when those times come i always welcomes them.

and this is one of those times.

***

Continue reading

Advertisements

buat meok

sang gadis pulang membawa perasaan, yang jatuh berserak di jalanan pulang. yang terserak dipunguti anjing-anjing jalanan, untuk diberikan pada anak-anak mereka: “makan kita hari ini.” yang retak terserak, dimakan malam-malam panjang serupa. di antara udara dingin dan seru angin, di sela-sela ingatan yang tak meminta pudar. yang retak rusak terserak, tertumbalkan rindu yang tidak terseru. dideru motor-motor, mobil-mobil; disapu cahaya lampu dan debu-debu.
setelah senyum lesu, sang gadis kembali di ruang itu. yang tak tertembus neon. yang terhalang kelabu. ia tahu, apa yang terserak meninggalkan hampa. dan ia tahu, yang hampa hanya terisi serak air mata.

juli 2015

Kopi, Teman, dan Obrolan

Ada banyak variabel-variabel dalam hidup setiap harinya: yang negatif, yang positif—yang kesemuanya terurut dalam satu persamaan besar. Hari ini, beberapa dari variabel itu menghasilkan persamaan buat hari yang menyenangkan.

Kopi, seperti juga sarapan yang enak lagi sehat, adalah suatu variabel positif. Apalagi jika dinikmati di pagi hari yang dingin, secangkir kopi panas itu jadi dua kali positifnya!

Continue reading

kelom geulis teteh sindi

aku sebenarnya terantuk oleh tema tulisan teman tinta kali ini. perihal kelom geulis. saking terantuknya, tulisan yang kubuat ini diposkan lima bulan setelah temanya ditetapkan. tetapi lima bulan tertunda bukan berarti aku tak juga mendapat ide. ada yang memberikan padaku sebuah ide untuk membuat puntiran kisah putri cinderella, yang ketinggalan sepatu kacanya waktu tengah malam itu dia buru-buru lari dari pelukan pangeran tampan karena takut dibenci. tahu kan, cinderella waktu itu dijadikan babu oleh si ibu tiri yang kejam serta dua anaknya yang buruk, dan dia cuma punya sehelai baju lusuh yang dipakai tiap hari. padahal dia cantik, tapi karena tidurnya di depan perapian, mukanya jadi penuh daki. ibu kandungnya mati waktu dia masih kecil, dan ayahnya mati tidak lama setelah nikah lagi dengan si ibu tiri. dulu waktu ayahnya masih ada, si ibu tiri dan dua anaknya baik padanya. tapi rupanya si ibu tiri cuma mengincar harta ayahnya–ayahnya, kan, pedagang sukses. Continue reading

tentang kematian dan kehilangan

“tapi yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
kita abadi.
(sdd)

pernah kamu terpikir tentang kematian? atau tentang bagaimana rasanya tidak hidup lagi? atau bertanya-tanya tentang kehidupan setelah ini? atau tentang pertanyaan “siapkah aku mati?” atau katakanlah orang terdekatmu meninggal karena sakit. adakah kamu merasa bahwa orang itu tidak ada lagi, dengan tiba-tiba hilang dari kehidupan kamu, meninggalkan kosong yang janggal? mungkin juga dengan hal-hal yang belum selesai tertinggal di sana: ucapan yang menyakitkan hati, rasa yang tidak tersampaikan, maaf yang tidak diberikan, janji yang tidak terpenuhi, utang piutang, rahasia-rahasia. selama hidup saya sampai saat ini, ada tujuh kematian yang saya temui. dan setiap kali selalu ada kosong, janggal, tapi juga dingin.

Continue reading

teman tinta: telat kenalan

sudah beberapa lama sejak saya berani menulis untuk dibaca orang lain (selain untuk tugas kuliah dan skripsi, ya). tentu, selama ini saya tidak berhenti membuat tulisan-tulisan semacam ini, hanya saja saya tidak berani (juga tidak ingin) untuk menyuguhkan tulisan-tulisan itu tadi. alasan besarnya adalah karena sebagian besar tulisan itu cuma sekadar curhat tanpa juntrungan, atau hanya tanpa juntrungan. betul. kalau kalian baca, paling-paling kalian hanya akan komentar, “apaan nih?” dan menyangka penulisnya mungkin sedikit aneh. alasan lainnya adalah saya malu tulisan saya dibaca orang. wong tulisanku buruk begini, mana ga ada juntrungannya pula!

tapi belakangan ini saya mulai sedikit terbuka dengan tulisan saya, mula-mula tulisan-tulisan kecil yang saya kumpulkan dalam bentuk file notepad di komputer saya kirim kepada teman perempuan saya, sekadar iseng (noticed how I basically trying to say that she’s my girlfriend? yes, I’m that shy). dan dia suka! dari itulah, saya mulai menulis lagi, biarpun sedikit-sedikit dan agak aneh (menurutnya). but I tend to write sporadically, dan juga sedikit malas (cuma sedikit, betul), jadi tulisan yang saya bagi pun terbatas.

selanjutnya, dan ini sebetulnya bikin saya girang, adalah tiba-tiba ada sekumpulan teman dekat yang berusul untuk membuat suatu lingkar menulis! I played it cool, of course. waktu itu saya pikir ini dia yang saya tunggu, sudah waktunya buat lebih, well, more ‘intimate’ dengan mereka. bertahun-tahun sama-sama gila, apa salahnya berbagi pandangan kalian yang paling gila tentang bermacam hal sekalian? dan setidaknya saya tidak bakal begitu malu berbagi dengan mereka.

maka, begitulah–setelah semalaman habis debat kusir untuk cari nama–teman tinta (sounds rather cute, no? yes it is!) bangun: delapan orang gila (satu kelihatannya normal sih…tapi, apa yang lebih gila dari orang normal yang fit in di sekumpulan orang gila?) dan satu yang menyusul masuk (well, so much for my proposed octopus logo design), akan berbagi tulisan dua kali dalam sebulan dengan tema acak. rencananya tiap sesi posting akan dibaca oleh satu pembaca tamu, sekalian memilih postingan favoritnya. siapa saja kami? boleh baca sedikit di sini atau di sini. ga panjang kok. maunya dikenalkan satu-satu, tapi…mungkin lain kali ya.

so, that last post was from the first topic, and we enjoyed it much. we hope teman tinta will last, until forever and beyond.

diamini.

Pikiran jahat

Hari-hari ini terasa sulit. Saya bokek. Kehabisan uang. Ah, padahal ada begitu banyak yang saya ingin beli. Nampaknya cara apapun bolehlah, asal dapat uang.

Hari ini saya pergi ke kampus untuk menghadiri kuliah yang tidak pernah ada. Yah, setidaknya semua orang datang. Saya bertemu dengan seorang teman yang juga senasib dengan saya. Dia bokek. Kehabisan uang. Hari-harinya terasa sulit. Ah, padahal ada begitu banyak barang yang ingin dia beli. Nampaknya cara apapun bolehlah, asal dapat uang. Kami juga bertemu dengan seorang teman yang tidak senasib dengan kami. Dia tidak bokek. Tidak kehabisan uang. Hari-harinya terasa mudah. Ah, ada barang yang akan dia beli. Nampaknya tidak pakai cara apapun bisa dapat uang. Oh, saya iri.

Sepulang kuliah, kami berdua—terikat oleh nasib yang sama—berjalan pulang. Sepanjang jalan kami membicarakan bagaimana caranya dapat uang. Kami membicarakan soal mencari uang. Kerja sambilan, cuci piring juga boleh, asal tidak mengganggu kuliah dan bersenang-senang. Tapi tak lama kemudian, kami terlibat pembicaraan jahat: cara mendapatkan uang banyak dengan cepat adalah merampok. Dia mengusulkan merampok ATM yang berada di dekat gerbang bawah kampus. Katanya ATM itu tidak ditanam, jadi masih bisa dibawa kabur. Baiklah, jadi, kami memerlukan alat-alat dan jalan keluar. Kami memutuskan untuk membawa linggis untuk membongkar ATM, tidak memakai pakaian yang mencolok agar tidak dicurigai, dan sarung tangan juga topeng ski (tapi tadi dia bilang pakai kupluk) supaya tidak ketahuan siapa pelakunya. Masing-masing bawa tas ransel biasa, untuk mencegah kecurigaan. Jangan mengambil uang banyak-banyak. Secukupnya saja, secukupnya. Satu tas bisa diisi kira-kira sampai sepuluh juta. Oke, alat-alat siap. Sekarang, jalan keluar. Saya usulkan untuk membawa kendaraan sendiri—oh, bukan, kendaraan pinjaman yang kami bawa sendiri. Dia bilang itu tidak bisa. Nanti bisa dikenali, pemiliknya bisa ditanya dan menyebutkan ciri-ciri peminjam. Dia usulkan untuk memakai kendaraan umum saja, tidak mencurigakan. Naik kendaraan umum ke tempat jauh, berputar-putar. Lalu, di tempat sepi semua topeng dan sarung tangan dibakar. Aman. Sempurna. Kami berpisah dengan rencana jahat yang terstruktur rapi masuk meresap ke dalam otak.

Tapi itu semua tidak pernah terjadi.

Ah, hari-hari terasa sulit…apa mungkin ya ada emas 24 karat batangan dua belas kilogram jatuh dari langit?